Jam setengah tujuh malam, KRL penuh orang pulang kerja. Gue berdiri sambil pegangan di tiang, keringat dingin karena AC-nya kalah sama jumlah penumpang. Di kantong, HP getar. Sebuah email masuk dari HRD perusahaan yang dua minggu lalu gue wawancarai. Isinya singkat: "Congratulations, we'd like to offer you the position."
Normalnya orang seneng. Gue? Malah bengong sampai hampir kelewatan stasiun. Bukan karena nggak mau, tapi karena angka di email itu lebih kecil dari yang gue sebutkan waktu wawancara. Dan di situ gue sadar, perjalanan pulang kerja malam itu jadi semacam rapat kecil sama diri sendiri yang nggak pernah gue jadwalkan.
Tawaran Pertama Itu Bukan Harga Mati
Dulu gue tipe orang yang kalau dikasih tawaran kerja, langsung bilang "oke" karena takut kehilangan kesempatan. Pernah sekali gue terima gaji cuma naik 300 ribu dari tempat lama, padahal job desk-nya dobel. Waktu itu gue pikir, "ya udah, yang penting pindah dulu." Setahun kemudian gue nyesel, bukan karena kerjaannya berat, tapi karena gue nggak pernah coba ngomong.
Nah, dari kejadian itu gue belajar satu hal yang kedengeran sepele tapi efeknya gede: tawaran pertama hampir selalu punya ruang untuk dinegosiasikan. Bukan berarti kamu harus ngeyel atau sok mahal. Tapi kalau kamu diam aja, perusahaan nggak akan tahu kamu butuh apa. Mereka nggak bisa baca pikiran lewat KRL penuh sesak ini.
Baca juga: Sok Sibuk vs Kerja Prioritas: Rencana 5 Hari Biar Karier Nggak Stuck
Yang gue lakukan malam itu sederhana. Gue balas emailnya besok pagi, bukan malam itu juga. Kenapa? Karena bales email penting sambil capek dan emosi itu resep gagal. Gue tulis dengan sopan, bilang makasih atas tawarannya, lalu sampaikan ekspektasi angka gue plus alasan singkat kenapa gue layak dapat itu. Nggak panjang, nggak lebay, tiga paragraf cukup.
Yang Gue Pelajari soal "Angka" di Wawancara
Waktu wawancara, HRD nanya ekspektasi gaji. Gue jawab dengan rentang, bukan angka mati. Ternyata ini penting banget. Kalau kamu sebut satu angka, kamu terjebak di angka itu. Kalau kamu sebut rentang, ada ruang buat mereka pilih di tengah. Tapi ingat, batas bawah rentang itu harus angka yang beneran bikin kamu nggak ngerasa ditipu tiap tanggal gajian.
- Sebut rentang, bukan angka tunggal.
- Riset dulu gaji pasaran posisi itu, jangan ngarang.
- Siapkan alasan: pengalaman, skill, atau hasil kerja yang bisa kamu tunjukin.
- Jangan negosiasi pas lagi kesel atau pas lagi desperat butuh kerja.
Gue juga belajar bedain antara gaji dan total paket. Ada perusahaan yang gajinya kecil tapi tunjangan dan bonusnya lumayan. Ada juga yang gaji besar tapi lembur nggak dibayar. Dulu gue cuma lihat angka di depan, sekarang gue lihat keseluruhan. Ini kayak beli paket data: murah belum tentu hemat kalau kuotanya cepat habis.
Wawancara Itu Dua Arah, Bukan Interogasi
Ini poin yang paling gue sesali nggak tahu dari awal karier. Wawancara itu bukan cuma mereka yang ngecek kamu, tapi kamu juga ngecek mereka. Dulu gue duduk di kursi wawancara kayak siswa menghadap kepala sekolah. Sekarang gue datang kayak orang lagi cari partner kerja.
Pertanyaan kayak "gimana budaya kerja di sini?" atau "kalau ada deadline mepet, biasanya tim handle-nya gimana?" itu bukan pertanyaan sok kritis. Itu pertanyaan penyelamat. Dari jawaban mereka, kamu bisa nebak apakah tempat itu bakal bikin kamu tumbuh atau malah bikin kamu burnout dalam enam bulan.
Karier itu perjalanan panjang. Salah pilih tempat kerja bisa bikin kamu mundur dua tahun, bukan dua bulan.
Gue pernah wawancara di tempat yang jawabannya semua "tergantung". Tergantung atasan, tergantung proyek, tergantung mood. Waktu itu gue nggak peka, gue terima aja. Ternyata bener, kerjaannya kacau karena nggak ada sistem. Pelajaran: kalau jawaban interviewer ngambang terus, itu jawaban juga.
Soal Ragu yang Datang Pas Pulang Kerja
Balik ke email malam itu. Setelah gue negosiasi, mereka naikin tawaran tapi nggak sebesar ekspektasi gue. Di situ gue diem di kamar kos, mikir. Terima atau tinggal? Dulu gue bakal langsung ambil karena takut nggak ada tawaran lain. Sekarang gue mikir: apa yang gue cari dari pindah kerja ini?
Kalau jawabannya cuma "biar gajinya naik dikit", mending gue pertimbangkan ulang. Karena pindah kerja itu ada biaya tersembunyinya: adaptasi baru, kehilangan kenyamanan, mulai dari nol lagi soal relasi. Naik gaji 500 ribu tapi harus lembur tiap hari? Itu bukan naik, itu tukar waktu hidup kamu.
Gue akhirnya nolak tawaran itu, dengan sopan. Bukan karena gue sombong, tapi karena gue udah pernah di posisi yang sama dan tahu rasanya nyesel. Beberapa bulan kemudian gue dapat tawaran lain yang lebih masuk akal, dan gue terima tanpa rasa ragu yang aneh-aneh.
Dari semua drama KRL malam itu, ada beberapa hal yang gue bawa sampai sekarang. Pertama, jangan pernah takut ngomong soal angka—kamu yang tahu nilai kerjamu, bukan HRD. Kedua, wawancara itu ngobrol, bukan ujian. Ketiga, dan ini yang paling penting, ragu itu bukan tanda lemah. Ragu artinya kamu mikir, dan orang yang mikir biasanya nggak gampang dibodohin.
Jadi kalau suatu hari kamu duduk di KRL, dapat email tawaran kerja, dan tiba-tiba bingung—tenang. Itu artinya kamu udah naik level. Tinggal pastiin keputusanmu diambil pas kamu udah turun dari KRL, bukan pas masih berdiri kejepit di pintu.